Friday, November 25, 2011

Sekolah vs Rumah vs Si Mbak


Sudah bbrp hari ini, aku sibuk browsing2 tentang sekolah anak (SD).  Hehe…sebenarnya hanya krn kebawa suasana teman2 dan milis yg lagi sibuk2nya pilah pilih sekolah buat anak.  Tapi ya gak ada salahnya juga kan mulai cari2 informasi yg sebanyak2nya ttg SD yg “sesuai” dengan kebutuhan Ranu.  Aku pilih kata sesuai krn memang banyak factor yg harus diperhatikan dalam milih sekolah.  Dari kurikulum, pola pengajaran, review lulusan, lokasi, dan yg teramat penting buat kami adalah biaya. 

Dari hasil browsing bbrp hari ini, liat review forum dan blog2 orang, ternyata biaya pendidikan ini memang luar biasa mahalnya.  Ada yg masuk PG aja 8 jt, trus masuk TKnya 17jt.  SPP berkisar min. 800rb.  Waduh tepok jidat dehh…itu baru tingkat sangat dasar loh.  Ada juga sekolah swasta berlabel internasional (ini yg paling dahsyat emang) bisa menghabiskan 87jt per tahun utk tingkat SD.  Huhu….dah gak sanggup tepok apa lagi ini.  Utk yg biasa2 aja, jg sebenarnya jg dah mayan bikin melongo.  SDIT rata2 sdh mematok min. 15jt uang pangkalnya.  SPP berkisar min. 800rb – 1,5jt. 

Tapi buat kami pribadi, masalah lain selain biaya muahal adalah kendala lokasi.  Lagi dilemma nih urusan tempat tinggal kami vs menyekolahkan anak.  Tempat tinggal kami skrg sebenarnya sdh sangat cukup nyaman utk kami.  Meskipun jauh dari tempat aktifitas kami dan juaga keluarga. Pergaulan bertetangga juga cukup enak.  Walopun buatku pribadi yg rada idealis belum menjadi tempat tinggal ideal krn lokasi agak jauh dari Masjid / mushola.  Walopun Insya Allah, satu hari nanti fillingku bilang di Terrace bakal ada Mushola.  Lah wong isi clusterku ini lumayan banyak golongan muslim yg cukup mampu utk berinfaq membangun mushola.  Tinggal ada yg mau gerakin aja.   Lah kok malah oot nih..lanjut deh.  Nah yg jadi masalah kami adalah hanya satu.  Saat ini kami mengandalkan penuh pengurusan anak dengan pembantu selama aku ngantor.  Dan aku menyadari sesadar2nya kalau kami tdk bisa mengandalkan mereka.  Lah wong mereka bisa seenak2nya minta pulang.  Ditahan jangan pulang, aku gak janji deh.  Daripada kerja sambil cemberut.  Dah gitu dibayang2i mereka nekat tetap pulkam pas kita ngantor.  Palagi baru aja dpt kabar kalo pembantu teman kantor tiba2 ada yg ngabur dari rumah.  Serba salah kan ngadapin si mba ini.  Makanya aku sudah yakin kalau mereka tidak bisa diandalkan.

Dengan alasan itulah, aku sebisa mungkin gak ingin bergantung ke mereka.  Makanya skrng harus berpikir keras gimana caranya anak2 bisa skolah dengan tenang tanpa tergantung keberadaan mereka.  Terutama saat Ranu sdh SD nanti.  Ya kalo skrg pas TK gini sih bolos2 dikit pas mbak ga ada sih dah bbrp kali.  Dan kyknya gpp sih kan TK blum sekolah wajib toh.  Pas nanti SD ini yg harus disiasati.  Salah satu rencana besar kami adalah mencari tempat tinggal yg dekat dgn orangtua.  Kyaknya sih yg dimaksud adalah di sekitar pondok kelapa.  Kenapa gak manggarai? Hehe…tau diri aja deh…mau balik ke daerah pondkel aja susah, krn harga perumahannya jg dah tinggi bgt.  Apalagi di daerah manggarai…Tebet gitu…duhh..belum brani ngimpi deh bisa beli rumah disana. 
Alasan kami punya rencana besar ini adalah kalo deket dgn ortu & kakak2. Paling gak kan pas lagi gak ada si mbak anak2 bisa dipulangkan dari sekolah ke rumah mereka.  Jadi urusan sekolah gak perlu bolos, akupun gak perlu cuti.  Rencana dan teori sih gitu.  Tapi yah gak gampang jg utk diwujudkan yah…Dari masalah pindah rumahnya, pindah TK nya, dll…Kalopun rencana besar ini tdk bisa diwujudkan, yah mungkin kami ke second plan yaitu Ranu & Dito akan boyongan tiap hari ke rumah eyang di manggarai dan sekolah disana.  Huhu…capek bgt pastinya…

Jadi keputusannya akan apa??? Kita tunggu aja deh…mengalir saja lahh…This is part of our family life…Just enjoy it…and Bismillah…

Tuesday, November 22, 2011

My Lovely Terrible Two

Sudah sering dengar ttg istilah "terrible two" ini, tapi belum pernah mencerna baik2.  Krn tidak pernah mengalami.  Ranu punya karakter yg manis sekali saat usia 1-3 thn.  Jadi rada bingung jg kalo ngeliat anak yg tantrum, yg susah diatur, dll.  Hehe...Alhamdulillah skrng dikasih sama Allah anak yg model kyk gini....Nah, untung juga sudah tau ada masanya yg disebut dgn istilah terrible two ini.  Jadi mama gak perlu bingung lagi menghadapi Dito yg sedang dalam fase ini.  Baca2 bbrp artikel nemu yg menarik buat referensi ku sendiri.


http://www.jawaban.com/index.php/relationship/detail/id/93/news/110202172357/limit/0/Tetap-Bahagia-Menghadapi-Si-Terrible-Two.html

Tetap Bahagia Menghadapi Si 'Terrible Two'

WEDNESDAY, 02 FEBRUARY 2011

Total View : 1169 times


Senyum yang memberikan kebahagiaan itu  berganti dengan temper tantrum yang mengesalkan. Tawa yang mengguncang dunia itu berganti dengan rengekan yang bikin pusing kepala. Kaki-kaki kecil itu dapat berlari kemana saja ia mau dan membuat Anda terengah-engah mengejar. Dari orangtua yang bangga dan bahagia, sekarang Anda menjadi polisi yang  kekurangan energi. Masa-masa menggemaskan bayi Anda telah lewat dan mau tidak mau Anda menghadapi masa yang di sebut ‘terrible two’.
Jika Anda kurang beruntung, Anda mungkin akan mengalami apa yang saya alami ketika anak kami Matthew berusia dua tahun. Dada saya yang sering berdegup kencang karena pengalaman hidup dan mati dengan anak ini. Wajah saya yang pucat melihat kepalanya berlumuran darah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ketakutan saya waktu TV kami seberat 50 kg jatuh menimpanya. Teriakan panik saya waktu kepalanya terjepit jendela mobil. Atau dunia yang hampir runtuh saat saya menyaksikan tubuhnya terapung di kolam renang. Ia melanggar hampir semua rambu-rambu yang telah saya buat dan melawan setiap kata ‘jangan’ yang saya ucapkan.
Syukurlah, Matthew yang berusia hampir empat tahun saat ini tidak lagi membuat hidup kami seperti pemain film horror. Ia mulai tenang dan terkendali. Ia mulai memahami apa arti bahaya dan kemampuannya untuk menjaga diri semakin tinggi.
Perlu diingat, walaupun disebut ‘terrible two’ tidak semua anak merepotkan orangtuanya di usia ini. Berikut, untuk menjadi orangtua yang lebih baik seringkali tidak datang secara alami, dalam arti kita juga harus belajar dan berlatih. Sama dengan anak kita yang belajar untuk mengenal dunia dan menaklukkannya tahun demi tahun, orangtua juga belajar untuk mengembangkan kemampuan parenting mereka.
Bagi yang memiliki anak Batita (1-3) tahun ada baiknya mencoba untuk mempraktekkan teknik-teknik di bawah ini:
1. Bangun Pembatas Masa Depan Sekarang
Meskipun setiap anak berbeda dalam menaati batasan yang kita buat tapi kita harus memilikinya. Batasan sebenarnya memberikan rasa aman kepada anak kita. Dengan itu mereka mulai belajar untuk membedakan yang baik dan tidak baik, antara yang boleh dan tidak boleh. Berhasilnya orangtua untuk membuat batasan yang benar, sederhana dan mudah diikuti bukan saja akan mempengaruhi jiwa anak pada saat mereka beusia dua tahun tapi ini juga akan membantu mereka untuk menentukan batasan sepanjang hidup mereka.
2.  Serius Jalankan Atau Tinggalkan
Tetap konsisten tidaklah segampang membuat batasan. Misalnya kita membuat aturan “Makan harus duduk di meja makan”, hari ini bisa dikerjakan tapi belum tentu besok kita akan tetap bertahan dengan aturan ini. Bagaimana dengan satu bulan kemudian? Atau bagaimana kalau anak kita harus diasuh nenek yang punya aturan yang berbeda?
Oleh karena itu jangan pernah membuat aturan jika Anda tidak serius menjalankannya.  Dua atau tiga aturan yang konsisten dijalani lebih baik dari dua puluh tiga aturan yang mudah dilanggar.
3. Ijinkan Einstein Lahir di Rumah Anda
Seringkali rasa ingin tahu anak kita yang berotak Einstein disalahtafsikan sebagai kenakalan. Banyak orangtua yang melarang anak mereka melakukan sesuatu tapi tidak memberikan sarana pengganti untuk menyalurkan bakat jenius mereka.
Ketika anak kami Joel mencoret-coret dinding apartemen sewaan kami yang putih bersih, saya sempat sewot. Saat itu saya belum sepenuhnya menyadari kalau anak kami sedang mencari cara untuk menyalurkan bakatnya. Melarangnya membuat karya seni di dinding adalah benar hanya kalau kita memberikannya  cara lain yang lebih baik. Akhirnya kami memberikan buku gambar, papan gambar, meja gambar, atau apa saja yang dapat mengalihkan perhatiannya untuk menggambar di dinding rumah.
Ijinkan anak-anak kita menyalurkan energi mereka secara positif. Berikan wadah untuk mereka berkarya. Izinkan mereka bermain di luar rumah dan berteriak sesuka mereka jika tempatnya memungkinkan. Bawa mereka ke tempat bermain anak-anak semampu kita dan biarkan mereka mengeksplorasi  dengan bebas. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak pada waktu mereka masih kanak-kanak. Dan jika kita berkata ‘jangan’, berikan selalu alternatif lain yang ‘boleh’. 
4. Wujudkan Kasih Lewat Tindakan
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kelihatannya lebih bermasalah dalam hal tantrum dari anak mereka. Mereka berteriak, membentak, mengancam, bahkan memukul. Tanpa disadari, anak-anak mereka belajar  dari apa yang mereka lakukan. Jangan heran kalau anak-anak ini juga belajar untuk mengkspresikan emosi mereka secara negatif dan penuh kekerasan. Akhirnya, lingkaran setan ini menjadi pola hubungan atara orangtua – anak, atau antara anak dengan teman-temannya.
Orangtua yang tetap tenang dan lembut meskipun anak mereka sedang tantrum, adalah model yang terbaik dalam pembentukan kepribadian anak. Kasih itu lemah lembut dan panjang sabar, sebenarnya prakteknya dapat dimulai dari mendidik anak-anak kita.

Penulis adalah seorang konselor profesional dan juga penulis buku "Turning Hurt Into Hope" (Metanoia 2009).

Sumber : Nancy Dinar

Monday, November 14, 2011

Oatmeal Cookies



Sebenarnya dari awal dah punya niatan kalo cemilan anak pgn bikin sendiri aja.  Toh sebenarnya biskuit gak beda jauh ma kue kering.  Tp kenyataannya juarang bgt bikin cemilan.  Nah kmrn maksain diri aja biar ga males.  Lagian pas jg cemilan Dito lg abis. Nah mamapun bongkar2 bahan yg ada.  Ternyata msh punya havermouth yg merah (instant).  Hmm....ini aja deh dimanfaatin.  Mulai deh browsing2 resep.  Akhirnya dpt yg gak terlalu ribet, tp lupa dari web mana (maaf yah).  Resep di bawah pun hasil modifikasi mama aja.  Rasanya lumayan juga, lembut & manisnya pas sesuai harapan.  Kaya serat pula lohhh....

Bahan:
200 gr margarin
100 gr gula putih
50 gr gula palem (kmrn gak ada, aku ganti gula merah yg dihalusin)
1 butir telur
200 gr oatmeal (kalau mau lebih halus bisa di blender sebentar)
200 gr tepung protein rendah
1 sdm tepung maizena
1/2 sdk teh garam
1/2 buah jeruk nipis (peras)


Cara membuat:
Kocok bersama margarin, gula putih, gula palem, telur sampai lembut dan putih.  masukan garam. masukan perasan jeruk nipis. Masukkan oatmeal sampai tercampur rata. Terakhir masukan tepung terigu bersama maizena uleni hingga rata.  Gulung2 adonan seperti es mambo dan masukan ke lemaris es slama kurang lebih 15mnt.  Siapkan loyang yg sdh beroles margarin.  Potong2 adonan berbentuk kepingan. dan ditata diatas loyang. Panggang di oven dgn api sedang hingga matang.

Friday, November 11, 2011

Kisah si Saputra

Baru datang sampai kantor, langsung buka detik.com.  Ketemu artikel ini.  Hmmm...sentuhan yg manis di Jumat pagi.  Banyak hikmah yg dpt diambil dari kisah si Saputra ini.  Antara lain mau berusaha dan tidak pantang menyerah.  Hebat jg buat ortunya pastinya yg bisa mendidik kepribadian yg baik buat si Saputra.  Mama ingin Ranu & Dito kelak mempunyai semangat seperti Saputra. 

Pasti sebagai manusia kita punya impian.  Pasti juga sebagai manusia kita punya keterbatasan.  Begitupun mama papa.  Pastilah kami akan senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan apa yg kalian impikan.  Tapi di lain sisi mama ingin kalian punya semangat & kemauan.  Jangan mudah menyerah dengan keadaan kini dan nanti.   Tidak ada yg tidak mungkin.  Insya Allah selama masih diberi nikmat sehat, masih ada doa, kalian pasti bisa mencapai impian.


Jumat, 11/11/2011 01:49 WIB

Kisah Saputra, Loper Koran yang Jadi Juara di Markas Milan
Irwan Nugroho - detiksport




detikSport/Irwan Nugroho

Jakarta - Prestasi memang tidak memandang apakah seseorang berasal dari keluarga kaya atau miskin. Saputra (14), seorang remaja yang sehari-harinya menyambi sebagai loper koran, lolos seleksi tim Indonesian All Star. Bersama rekan-rekan satu tim, ia berhasil mempertahankan gelar juara Intesa Sanpaolo Cup 2011.

Saputra dkk. menggondol piala Intesa Sanpaolo Cup 2011 yang digelar oleh klub termasyur di Italia, AC Milan. Intesa Sanpaolo Cup sendiri merupakan turnamen tahunan yang menyedot perhatian di Milan Junior Camp Day. Di final 5 November lalu, para remaja asuhan pelatih Bambang Waskito itu menundukkan tim gabungan Venezuela-Brasil dengan skor 2-0.

Sementara dalam ujicoba dengan para pemain junior AC Milan Soccer Academy yang dihelat setelah kejuaraan selesai, tim Indonesian All Star juga menang 3-2. Tim Indonesian All Star merupakan tim pertama yang mengalahkan tim junior AC Milan yang dilatih dengan ketat.

Saputra pun merasa bangga bisa mempersembahkan hasil tersebut. Stiker tim Indonesian All Star ini menceritakan, kekompakan tim menjadi faktor penentu kemenangan. Selain kompak, timnya mempunyai semangat yang luar biasa sehingga mampu menggunguli 25 negara peserta turnamen sepak bola lainnya.

"Tim Indonesia sangat kompak dan terus banyak sekali motivasi. Kalau mau pas di lapangan semangat semua," kata Saputra, yang ditemui di sela-sela pertemuan tim Indonesian All Star dengan Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2011).

Saputra adalah remaja kelahiran Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), 6 November 1997. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kelas empat SD, Saputra sudah harus bekerja membantu orangtuanya yang beralamat di Jl Bendungan Lrg, Rawa Laut RT 03 RW 01 No 180/199, Palembang.

Untuk membantu perekonomian keluarga, remaja berambut cepak ini tak sungkan menjadi loper koran. Saban pagi, sebelum berangkat ke sekolah, ia menyetor koran ke lapak-lapak dan pelanggan. Setiap hari, uang Rp 15-20 ribu dikantonginya dari berjualan koran. Uang hasil jerih payahnya itu sebagian ia pergunakan untuk jajan dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya yang cuma buruh cuci rumah tangga.

"Dari kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP. Tapi kelas 3 ini sekolah pagi, jadi cukup untuk langganan bulanan atau di tempat sekolah. Guru-guru kadang beli sama aku," ucap Saputra.

Sebagaimana anak seusianya di Palembang, Saputra juga gemar olah raga sepakbola. Ia mulai menenekuni sepakbola sejak usia 5 tahun. Beranjak sedikit dari umur belianya tersebut, ia masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sportivitas di Palembang. Sayang, gara-gara tidak punya uang, Saputra tidak bisa meneruskan latihan di SSB tersebut.

Pada prosesnya, kenang Saputra, ia memperoleh beasiswa sekolah sepak bola dari PT Pusri. Selama 3 tahun ini, ia giat berlatih di Pusri tiga kali seminggu. Namun, di tengah kesibukan untuk latihan rutin Saputra tetap melakukan pekerjaannya sebagai loper koran. Bahkan, dari aktivitasnya sebagai loper koran tersebut ia mengenal banyak pemain Sriwijaya FC dari dekat.

"Aku kebetulan jualan koran juga di mess-nya. Jualan koran. Ya, masih sampai sekarang. Biasa kamar Arif Suyono, Supardi Nasir, Firman utina. Jualan koran pagi, tapi kadang nunggu pemain selesai bangun tidur itu lama. Jadi, ya, sudah kumasukin di bawah pintu, siang baru ambil uangnya," tutur Saputra.

Ke Italia

Saputra tentu ingin meraih meraih prestasi seperti para pemain favoritnya di Sriwijaya FC tersebut. Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Tanggal 29 Oktober 2011 lalu, ia mendengar ada penyaringan pemain untuk Indonesian All Star yang akan berlaga di Italia. Bersama temannya, Saputra pun mengikuti seleksi tersebut.

Dengan bekal uang pinjaman Rp 2.000, ia berangkat ke lokasi seleksi di Palembang. Uang itu dibelikan pempek untuk sarapan. Saputra berhasil lolos masuk 250 besar di seleksi pertama. Dan, pada hari berikutnya, tanggal 29 Oktober ia terpilih dalam 60 besar untuk menjalani seleksi di Bali.

"Seterusnya tanggal 29 hari Minggu nggak ada uang, sarapan mie saja sama teh. Udah pas itu saya bangga setelah sore-sore terpilih bisa seleksi 60 di bali. Orangtuaku bangga sekali," ucap Saputra.

Karena berteman akrab dengan pemain Sriwijaya FC, Saputra pun menelepon Supardi untuk mengabarkan keberhasilannya menembus 60 besar. "Pas mau ke Bali itu aku telepon Bang Supardi. 'Bang aku lolos. Ada nggak saran buat aku biar nggak cepet puas.' Dari situ aku ada rasa bangga sama dia," kata Saputra.

Di Bali, Saputra kian memuluskan langkah ke Jakarta. Dalam seleksi di Jakarta, ia berhasil masuk ke 18 besar tim yang diberangkatkan ke Italia atas dukungan PT Pertamina (Persero). Menurut Saputra, resepnya untuk berhasil adalah tidak pernah menyerah atau pasrah kepada keadaan.

"Pokoknya jangan nyerah deh. Ekonomi itu bukan segalanya hal untuk meraih mimpi atau prestasi. Berani untuk bermimpi dan jangan pernah takut. Semua itu pasti ada jalan," kata Saputra bijak.

Mengenai rencana masa depan, Saputra mengaku ingin menjadi pemain sepakbola nasional yang handal. Sedangkan dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke Palembang untuk bersekolah dan berlatih lagi di Pusri. Tetap jualan koran?

"Masih-lah. Dari mana aku bisa jajan sekolah sama buat kasih orang tua?" katanya sambil tersenyum.



( irw / krs )